Dalam budaya Jawa, rewang berarti membantu tetangga atau kerabat yang sedang punya hajat, seperti pernikahan, khitanan, atau slametan. Bentuknya biasanya sederhana, misalnya ikut memasak, menata kursi, menyajikan hidangan, atau sekadar meramaikan suasana. Meski tampak sepele, rewang punya makna mendalam sebagai wujud gotong royong dan rasa kebersamaan. Orang yang datang untuk rewang tidak sekadar “mbantu,” tapi juga menunjukkan solidaritas, ikut berbahagia, dan menjaga hubungan baik antarwarga. Ada juga nilai timbal balik di dalamnya: siapa yang rewang hari ini, suatu saat akan dibantu kembali ketika ia punya acara. Karena itu, rewang bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tentang membangun keakraban, kerukunan, dan rasa saling memiliki dalam masyarakat Jawa.
Persiapan malam tirakatan dalam rangka HUT RI tahun ini di RT 1 berjalan penuh kebersamaan. Tahun ini, memperingati HUT RI ke 80, jatah giliran "ngundhuh gawe" masak-masak dan konsumsi adalah RT 01. Kegiatan rewang dilaksanakan mulai Jumat (15/8) dan masih berlanjut pada Sabtu (16/8). Para ibu-ibu RT 1 dibantu oleh warga RT lain memasak berbagai hidangan untuk snack dan makan besar malam tirakatan, sekaligus menyiapkan konsumsi bagi bapak-bapak yang bergotong royong memasang tarub di lokasi acara.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rapat yang telah diadakan dua hari sebelumnya. Dalam musyawarah tersebut, disepakati menu dan pembagian tugas memasak. Snack yang disiapkan antara lain kue pukis, lemper, tahu bakso, dan camilan lombok keju. Kecuali lombok keju, semua snack dimasak sendiri oleh warga. Ada yang menjadi chef utama, sementara yang lain saling membantu menyelesaikan setiap tahap masakan.
Pada hari pertama, fokus rewang adalah membuat kue pukis dan lemper. Lemper menjadi menu primadona, kue tradisional dari beras ketan yang dibumbui santan kelapa gurih dan gula, menghasilkan kombinasi rasa gurih-manis yang nikmat, ditambah aroma daun salam. Isian lemper dibuat dari suwiran ayam yang diolah menjadi abon. Kue pukis buatan warga pun tak kalah lezat, dengan aroma mentega yang harum dan tekstur lembut.Selain membuat snack, warga juga menyiapkan bumbu-bumbu untuk menu utama dan menata kerupuk. Menu makan besar tirakatan tahun ini adalah nasi ayam goreng lengkap dengan sambal, lalapan, dan kerupuk. Proses memasak ayam goreng baru dilakukan keesokan harinya agar tetap segar.

Suasana rewang terasa guyub, rukun, dan penuh canda. Obrolan ringan dan celoteh lucu mewarnai kegiatan. Untuk menghangatkan perut di malam hari, disajikan mie rebus. "Makan mie sebelum nasi itu rasanya nikmat sekali," ujar Bu Rini, Ketua RT 1.
Meski tanggung jawab memasak ada di RT 1, banyak ibu-ibu RT lain yang ikut membantu. Di antaranya Bu Wahyu, mantan Ibu RW yang sudah menjabat tiga periode. "Bikin lemper itu yang sulit saat menyematkan lidinya," ujarnya sambil tetap lincah memasang lidi dengan tangan berbalut kain lampin. Ibu RW saat ini, Bu Eni, memuji hasil lemper yang rapi. "Ini lemper buatan sendiri kayak lemper bakar daerah Cawas," katanya bangga. Sementara Bu Narti, yang ikut membentuk lemper, membuat semua tertawa saat melihat hasil buatannya yang besar. "Ini seperti lengan besarnya," candanya, disambut gelak tawa.
Selain mereka, ada pula Bu Samini, Bu Ninik, dan Bu Tanti dari RW 3 yang ikut membantu. Obrolan juga sempat bergeser membicarakan dresscode jalan sehat yang akan dilaksanakan pada 24 Agustus. Bu Rini menyebut sudah menyiapkan properti menarik, namun masih dirahasiakan. Bu Eko dan Bu Wulan asyik memilih warna jilbab, sementara Bu Karmila bergurau akan memakai sepatu roda.
Rewang dan canda tawa terus berlangsung hingga semua pekerjaan selesai. Warga berharap kegiatan rewang hari kedua tetap berjalan lancar dan penuh semangat.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tirakatan HUT RI, Warga RT 1 Satu Hati Rewang Bersama", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/dewisulis6018/689f435f34777c0dde299362/tirakatan-hut-ri-warga-rt-1-satu-hati-rewang-bersama
Kreator: Dewi Sulis