Dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-80, Kelurahan Gayamprit, Kecamatan Klaten Selatan, menyelenggarakan Lomba Menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) di Balai Kelurahan beberapa waktu lalu. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga wadah edukasi untuk masyarakat, khususnya para ibu PKK, agar lebih kreatif menyajikan menu sehat untuk keluarga.
Ada sembilan RW yang ikut serta dalam lomba, masing-masing menampilkan menu olahan dengan syarat utama: tidak menggunakan beras dan tepung sebagai bahan dasar. Setiap peserta diwajibkan menyusun menu lengkap yang dapat dihidangkan di meja makan, memperhatikan kandungan gizi seimbang, rentang usia anggota keluarga, serta kreativitas penyajian.
Balai Kelurahan Gayamprit sore itu semarak dengan aroma masakan yang beraneka ragam. Dari sembilan meja yang berjajar, tersaji inovasi kuliner unik: kentang yang diolah menjadi bakso, ubi disulap menjadi pizza, sate dengan kombinasi protein nabati dan hewani dalam satu tusuk, hingga berbagai macam sayur seperti sub dan paklai. Kreativitas ini sekaligus menunjukkan bahwa sumber karbohidrat tidak melulu berasal dari nasi atau tepung, melainkan bisa diganti dengan bahan lokal lain yang lebih beragam.
PKK RW 8 Kaloran yang diwakili oleh Ibu Eny, Ketua PKK, bersama Ibu Rini selaku Bu RT, tampil percaya diri dengan mengenakan seragam PKK. Mereka menyajikan menu berbahan dasar kentang, yang diolah menjadi bakso isi kentang dan bakso bakar. Tak hanya itu, mereka juga menghadirkan sayur capcay paklai serta lauk hewani dan nabati yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi lintas usia.
“Kami sengaja membuat menu ini karena kalau dimasak dalam bentuk daging, anak-anak sering malas mengunyah. Dengan olahan seperti ini, rasanya tetap enak, teksturnya lembut, dan lebih mudah dimakan, terutama bagi lansia,” ungkap Bu Eny.
Menu yang disajikan RW 8 tidak hanya ditujukan sebagai hidangan sehari-hari—baik pagi, siang, maupun malam—tetapi juga membawa misi penting: upaya mengentaskan stunting. Kentang dipilih sebagai alternatif karbohidrat untuk anak-anak yang sulit makan nasi, dengan harapan bisa membantu pemenuhan gizi seimbang di rumah tangga.
Tak sekadar soal rasa, lomba B2SA juga menekankan aspek penyajian dan keamanan makanan. Para juri—terdiri dari ahli gizi Klaten Selatan, ahli tata boga SMKN 3 Klaten, serta ASN Kecamatan yang juga penggerak PKK—memberikan masukan yang kaya bagi peserta.
Dalam kategori safety, misalnya, juri menyarankan penggunaan piring berwarna putih agar lebih mudah mendeteksi kotoran, serta menghindari hiasan bunga hidup yang aromanya bisa mengganggu makanan. Garnish ideal, menurut juri, sebaiknya dibuat dari sayuran segar seperti wortel atau tomat. Selain itu, penggunaan hiasan daun pisang yang disemat dengan stapler juga dinilai berisiko karena isi stapler bisa tertelan.
Untuk kategori estetika, peserta diajak lebih memperhatikan kontras warna antara taplak meja dan peralatan makan. Taplak berwarna gelap, misalnya hitam, akan membuat piring putih terlihat lebih elegan. Sementara dekorasi tambahan berupa bunga plastik dianggap tidak perlu, karena fokus hiasan sebaiknya berasal dari kreativitas olahan sayur.
“Lomba ini bukan sekadar masak, tapi menciptakan sesuatu yang berbeda. Ikan lele misalnya, bisa difilet agar bebas duri, dibuat abon, atau nugget. Bahkan sayur berkuah pun bisa dimasak dalam bambu, bukan hanya di panci. Angka kesulitan memasak justru menjadi nilai tambah,” ujar salah satu juri memberikan umpan balik.
Setelah melalui penilaian yang ketat, RW 9 Banyu Anyar berhasil keluar sebagai juara pertama. Menu sate unik mereka—berisi udang, tempe, dan tahu dalam satu tusuk—dinilai lengkap dari segi protein. Tidak hanya itu, mereka juga menghadirkan perkedel berbentuk karakter bebek lucu, lengkap dengan mata dari kacang hijau dan hidung dari cabai. Kreativitas ini memikat perhatian juri sekaligus mengundang senyum penonton.
Selain itu, ada pula menu pizza ubi dengan topping saus tomat, mayones, smoke beef, sosis, keju, dan sayuran. Meski tampil menarik, menu ini dinilai kurang memenuhi prinsip B2SA karena tidak memasukkan protein nabati. Lomba ini kembali menegaskan pentingnya keseimbangan gizi dalam setiap sajian.
Para pemenang Juara 1,2, dan 3 mendapatkan hadiah uang pembinaan masing-masing Rp3 juta, Rp2,5 juta, dan Rp2 juta. Namun bagi RW 8 Kaloran, nilai yang mereka bawa pulang jauh lebih besar daripada angka rupiah.
“Tahun ini kami memang belum berhasil memenangkan lomba, tapi kami tetap bangga dengan hasil yang kami peroleh. Masukan dari juri dan ilmu yang kami dapat akan kami sosialisasikan di PKK kami agar bisa diterapkan di rumah tangga masing-masing,” tutur Bu Eny dengan senyum hangat.
Senada, Bu Rini menambahkan, “Bagi saya ini adalah pengalaman pertama yang sangat berharga. Ke depan kami siap berkompetisi lagi dengan persiapan yang lebih matang. Yang penting kami sudah berani mencoba dan berproses bersama.”
B2SA bukan pertama kalinya digelar di Gayamprit, namun setiap tahun lomba ini selalu membawa pembelajaran baru. Dari kreativitas penyajian, inovasi bahan, hingga kesadaran akan pentingnya gizi seimbang, semuanya menjadi bekal berharga bagi ibu-ibu PKK.
Bagi RW 8 Kaloran, perjalanan mengikuti lomba ini membuktikan bahwa kemenangan bukan sekadar soal juara, melainkan keberanian berinovasi, kemauan belajar, dan semangat untuk terus membawa manfaat bagi keluarga dan lingkungan. Dengan semangat itu pula, PKK RW 8 optimistis akan terus melangkah lebih baik di kesempatan berikutnya.