SIMPOLL: Sistem Informasi Masyarakat dan Potensi Lokal RW 08 Kaloran maju sebagai kampung digital dan berliterasi

Artikel

Beautiful in White: Menyatu dalam Kedamaian di Masjid Syech Zayed

02 November 2025 18:44:29  Dewi Sulis  28 Kali Dibaca  Berita Kampung

Beberapa waktu yang lalu, jamaah Masjid Assalim Miftahul Jannah yang berlokasi di Kampung Kaloran, Kelurahan Gayamprit ini mengadakan kegiatan rihlah penuh makna. Tujuan perjalanan kali ini bukan sekadar untuk menyegarkan pikiran, tetapi juga untuk meneguhkan hati dalam kebersamaan dan ibadah. Dua destinasi menjadi saksi langkah-langkah penuh makna tersebut: Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri dan Masjid Syech Zayed di Surakarta.

Dengan semangat kebersamaan yang tinggi, rombongan berangkat sejak pukul setengah enam pagi. Waktu yang masih segar di awal hari itu dipilih agar perjalanan dapat berlangsung lancar, terhindar dari kemacetan, dan memberi keleluasaan waktu lebih banyak untuk beribadah di Masjid Syech Zayed. Sejak awal, seluruh jamaah tampak antusias, bukan semata karena rihlah ini membawa suasana baru, tetapi karena mereka meniatkan perjalanan ini sebagai bentuk silaturahmi dan penguatan iman.

Singgah di Waduk Gajah Mungkur

Perhentian pertama adalah Waduk Gajah Mungkur, ikon wisata alam Wonogiri yang memikat. Udara pagi yang segar, permukaan air yang berkilau, serta hamparan bukit hijau di sekitarnya menjadi pemandangan yang menenangkan. Di tempat ini, jamaah menikmati waktu seperlunya — sekadar melepas lelah, menikmati keindahan alam ciptaan Allah, sambil terus menjaga niat utama: menunaikan sholat Ashar berjamaah di Masjid Syech Zayed.

Kesederhanaan momen di tepi waduk itu justru meninggalkan kesan mendalam. Dalam kebersamaan yang sederhana, mereka belajar bahwa keindahan alam sejatinya adalah pengingat akan kebesaran Sang Pencipta. Setelah waktu dzuhur semakin dekat, rombongan pun bersiap melanjutkan perjalanan menuju destinasi utama, Masjid Syech Zayed.

Menuju Masjid Syech Zayed

Sekitar pukul 11.00 siang, rombongan meninggalkan Waduk Gajah Mungkur. Meski panas siang terasa terik, semangat jamaah tak berkurang sedikit pun. Sepanjang perjalanan, terlihat wajah-wajah ceria penuh semangat, bercampur rasa haru dan rindu untuk segera bersujud di rumah Allah yang begitu megah dan indah.

Setibanya di kawasan masjid menjelang pukul setengah dua siang, suasana mulai berubah. Seolah ada ketenangan yang menyelimuti setiap langkah. Arsitektur putih bersih Masjid Syech Zayed yang berdiri megah di tengah kota Solo itu langsung memikat pandangan. Kubah besar, menara-menara tinggi, dan detail ornamen yang elegan membuat setiap jamaah seakan dibawa ke suasana spiritual yang mendalam, seolah sedang berada di Timur Tengah.

Sebelum memasuki masjid, para jamaah dengan kompak berganti pakaian menjadi serba putih. Bagi mereka, warna putih bukan sekadar pilihan busana. Putih melambangkan kesucian, keikhlasan, dan kebersihan hati. Dalam balutan warna itu, tampak harmoni yang indah antara penampilan luar dan ketulusan batin. Seakan mereka ingin menyatukan niat dan penampilan — bersih secara lahir dan batin saat berdiri di hadapan Sang Khalik.

Dzuhur, Zikir, dan Keheningan

Setelah berwudhu, jamaah pun menunaikan sholat Dzuhur di ruang utama masjid. Waktu bergulir dengan lembut. Usai sholat, sebagian jamaah menyibukkan diri dengan berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau sekadar duduk dalam keheningan, menenangkan diri di tengah suasana masjid yang damai.

Sinar matahari menembus celah-celah jendela besar masjid, menimbulkan pantulan cahaya yang lembut di lantai marmer. Suasana terasa begitu teduh dan khusyuk. Dalam hening itu, setiap orang seakan diajak berdialog dengan dirinya sendiri — menata kembali niat, memperbaiki langkah, dan mengingat bahwa perjalanan sejati bukanlah tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang sejauh mana hati mendekat kepada Allah sambil menunggu waktu Ashar tiba.

Menjelang waktu Ashar, suasana masjid mulai ramai. Ternyata, saat itu sedang berlangsung kajian bersama Imam Masjid Syech Zayed di lantai 2. Sayup-sayup terdengar kajian yang berisi tausiyah dan tanya jawab dari jama’ah yang ikut dalam kajian. Pesan-pesan yang disampaikan begitu lembut, mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati dan kesederhanaan dalam beribadah.

Petugas masjid, atau askar, dengan ramah memberikan informasi bahwa jika jamaah ingin sholat berjamaah bersama imam masjid, perlu menunggu beberapa menit hingga kajian selesai. Namun, jika ingin mendirikan sholat lebih dahulu, dipersilakan pula.

Keputusan pun diambil dengan penuh pertimbangan. Jamaah Assalim Miftahul Jannah memutuskan untuk melaksanakan sholat berjamaah sendiri, dengan salah satu jamaah bertindak sebagai imam. Suasana tetap khidmat, meski sederhana. Di tengah keindahan arsitektur masjid yang megah, mereka menjalankan sholat dengan hati yang penuh ketundukan.

Di saat takbir pertama berkumandang, terasa getaran haru yang sulit diungkapkan. Dalam diam, setiap sujud menjadi bentuk rasa syukur — bahwa di tengah kesibukan dunia, mereka masih diberi kesempatan untuk bersimpuh di rumah Allah, bersama saudara seiman, dalam suasana yang begitu suci.

Menutup Hari dengan Keindahan

Usai sholat, jamaah tak langsung beranjak. Selepas memanjatkan do’a, mereka menyempatkan waktu untuk berkeliling, menikmati keindahan arsitektur masjid. Setiap sudut seolah menyampaikan pesan keagungan dan ketenangan. Ada yang mengabadikan momen dengan kamera, ada pula yang sekadar menatap langit dari pelataran masjid sambil berbisik doa.

Tak lupa, momen kebersamaan itu diabadikan dengan foto bersama. Barisan jamaah serba putih berdiri rapi dengan latar belakang kubah masjid berwarna putih keemasan — pemandangan yang memancarkan harmoni antara keindahan, spiritualitas, dan persaudaraan.

Lebih dari sekadar perjalanan, rihlah kali ini menjadi renungan spiritual. Bahwa dalam kesederhanaan niat, ada ketulusan yang melahirkan kedamaian. Bahwa keindahan tak selalu tentang rupa, melainkan tentang hati yang bersih dan langkah yang ikhlas.

Dalam balutan putih itu, jamaah Masjid Assalim Miftahul Jannah tak hanya tampak indah secara lahir, tetapi juga memancarkan keteduhan iman. Mereka membuktikan bahwa spiritualitas dan keindahan bisa berjalan beriringan, menjadi cerminan bahwa ibadah pun bisa tampil anggun, asalkan hati tetap tunduk pada Sang Pencipta.

Dan di bawah megahnya kubah Masjid Syech Zayed, mereka pulang membawa lebih dari sekadar kenangan. Mereka membawa pulang ketenangan, kebersamaan, dan cahaya putih yang menerangi hati.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Statistik Penduduk

Arsip Artikel

Agenda

Sinergi Program

Info Media Sosial

Wilayah Kelurahan

Lokasi Kantor Kelurahan


Kantor Desa
Alamat : Dusun Kaloran, Kelurahan Gayamprit, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Kelurahan : Gayamprit
Kecamatan : Klaten Selatan
Kabupaten : Klaten
Kodepos : 57423
Telepon :
Email : rwdelapan@gmail.com

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:51
    Kemarin:30
    Total Pengunjung:15.710
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:216.73.216.102
    Browser:Mozilla 5.0